Adrian Newey, sosok penting di balik kesuksesan Red Bull. (Foto: Reuters)
SEBASTIAN Vettel memang masih perlu menyelesaikan
satu seri lagi untuk meraih gelar juara Formula 1 (F1) selama tiga tahun
berturut-turut. Namun, hat-trick juara konstruktor sudah
disandang oleh Red Bull, karena perolehan poinnya sudah tak mungkin
dikejar oleh pesaing terdekat mereka, Ferrari.
Sebagian besar sorot mata mungkin akan tertuju pada Vettel, sebagai sosok yang paling berpengaruh membawa Red Bull meraih kejayaan selama tiga tahun berturut-turut. Namun, jangan lupakan Adrian Newey, sang engineer yang telah membawa Red Bull menjadi tim menakutkan di ajang F1.
Sejak terjun ke ajang F1 pada 2005 hingga 2009, kendati sempat menempatkan pembalapnya finis di posisi dua klasemen akhir, Red Bull belum mampu meraih gelar juara konstruktor. Namun, kedatangan Newey pada 2010 membuat tim yang bermarkas di Milton Keynes tersebut selalu menjadi juara konstruktor F1.
Kiprah Newey di F1 sendiri dimulai pada 1990 di mana ia bergabung dengan Williams, yang saat merupakan tim tangguh. Namun, baru pada 1992, pria yang kini berusia 53 tahun tersebut meraih gelar konstruktor pertamanya bersama Williams. Saat itu, Nigel Mansell lah yang menjadi juru kemudi mobil FW14B.
Dua tahun berikutnya, Williams masih mendominasi dan menjuarai konstruktor. Pembalap asal Prancis, Alain Prost lah yang berhasil dibawa Newey menjuarai F1 pada 1993 dengan mobil FW15C. Sedangkan pada 1994, Williams gagal mengawinkan gelar juara pembalap dan konstruktor, karena Michael Schumacher dari Benetton yang menyabetnya.
Setelah pada 1995 gelar berpindah ke tangan Benetton, Newey dan Williams melakukannya lagi pada 1996 dan 1997. Saat itu, Damon Hill dan Jacques Villeneuve yang berhasil dibawanya menjadi pembalap terbaik dengan mobil FW18 (1996) dan FW19 (1997).
Pada 1998, Newey meninggalkan McLaren dan bergabung dengan McLaren. Di tahun pertamanya bersama McLaren, pria lulusan University of Southampton itu langsung menunjukkan kepiawaiannya. McLaren juara konstruktor pada 1998 dengan mobil MP4/13. Mika Hakkinen lah yang saat itu jadi andalannya.
Selepas kejayaan Ferrari pada 2000-an, Newey akhirnya bergabung dengan Red Bull pada 2010. Keputusannya ternyata tak salah. Vettel berhasil ia bawa menjadi juara dua tahun berturut-turut (2010 dan 2011) dengan RB6 dan RB7. Dan, tiga gelar juara konstruktor pun semakin membuktikan pentingnya sosok Newey di tubuh Red Bull.
Bahkan, saking pentingnya sosok Vettel dan Newey di kubu Red Bull, sempat muncul “persaingan” di antara keduanya. Beberapa pihak menilai peran Newey lebih besar ketimbang Vettel, namun sebagian lagi menganggap kejayaan Red Bull merupakan buah kerja sama di antara keduanya.
Juara dunia dua kali dari Ferrari, Fernando Alonso misalnya, yang mengatakan bahwa menghadapi Red Bull juga berarti bertarung dengan Newey. “Kami tidak hanya bertarung melawan Sebastian. Kami juga akan melawan Newey,” ujar Alonso jelang GP India pada akhir Oktober lalu.
Betul jika F1 bukanlah kompetisi mementingkan kemampuan individu pembalap atau pun engineer semata, melainkan kerja sama tim. Namun, peran Newey dan Vettel di Red Bull memang begitu signifikan. Maka, setelah gelar juara konstruktor telah diraih, segalanya akan lebih manis jika Vettel memastikan gelar juara di GP Brasil mendatang, bukan?
Sebagian besar sorot mata mungkin akan tertuju pada Vettel, sebagai sosok yang paling berpengaruh membawa Red Bull meraih kejayaan selama tiga tahun berturut-turut. Namun, jangan lupakan Adrian Newey, sang engineer yang telah membawa Red Bull menjadi tim menakutkan di ajang F1.
Sejak terjun ke ajang F1 pada 2005 hingga 2009, kendati sempat menempatkan pembalapnya finis di posisi dua klasemen akhir, Red Bull belum mampu meraih gelar juara konstruktor. Namun, kedatangan Newey pada 2010 membuat tim yang bermarkas di Milton Keynes tersebut selalu menjadi juara konstruktor F1.
Kiprah Newey di F1 sendiri dimulai pada 1990 di mana ia bergabung dengan Williams, yang saat merupakan tim tangguh. Namun, baru pada 1992, pria yang kini berusia 53 tahun tersebut meraih gelar konstruktor pertamanya bersama Williams. Saat itu, Nigel Mansell lah yang menjadi juru kemudi mobil FW14B.
Dua tahun berikutnya, Williams masih mendominasi dan menjuarai konstruktor. Pembalap asal Prancis, Alain Prost lah yang berhasil dibawa Newey menjuarai F1 pada 1993 dengan mobil FW15C. Sedangkan pada 1994, Williams gagal mengawinkan gelar juara pembalap dan konstruktor, karena Michael Schumacher dari Benetton yang menyabetnya.
Setelah pada 1995 gelar berpindah ke tangan Benetton, Newey dan Williams melakukannya lagi pada 1996 dan 1997. Saat itu, Damon Hill dan Jacques Villeneuve yang berhasil dibawanya menjadi pembalap terbaik dengan mobil FW18 (1996) dan FW19 (1997).
Pada 1998, Newey meninggalkan McLaren dan bergabung dengan McLaren. Di tahun pertamanya bersama McLaren, pria lulusan University of Southampton itu langsung menunjukkan kepiawaiannya. McLaren juara konstruktor pada 1998 dengan mobil MP4/13. Mika Hakkinen lah yang saat itu jadi andalannya.
Selepas kejayaan Ferrari pada 2000-an, Newey akhirnya bergabung dengan Red Bull pada 2010. Keputusannya ternyata tak salah. Vettel berhasil ia bawa menjadi juara dua tahun berturut-turut (2010 dan 2011) dengan RB6 dan RB7. Dan, tiga gelar juara konstruktor pun semakin membuktikan pentingnya sosok Newey di tubuh Red Bull.
Bahkan, saking pentingnya sosok Vettel dan Newey di kubu Red Bull, sempat muncul “persaingan” di antara keduanya. Beberapa pihak menilai peran Newey lebih besar ketimbang Vettel, namun sebagian lagi menganggap kejayaan Red Bull merupakan buah kerja sama di antara keduanya.
Juara dunia dua kali dari Ferrari, Fernando Alonso misalnya, yang mengatakan bahwa menghadapi Red Bull juga berarti bertarung dengan Newey. “Kami tidak hanya bertarung melawan Sebastian. Kami juga akan melawan Newey,” ujar Alonso jelang GP India pada akhir Oktober lalu.
Betul jika F1 bukanlah kompetisi mementingkan kemampuan individu pembalap atau pun engineer semata, melainkan kerja sama tim. Namun, peran Newey dan Vettel di Red Bull memang begitu signifikan. Maka, setelah gelar juara konstruktor telah diraih, segalanya akan lebih manis jika Vettel memastikan gelar juara di GP Brasil mendatang, bukan?